management

“Tomorrow is Today” – by Prof Rhenald Kasali

Berikut merupakan ringkasan dari buku terbaru (Oktober 2017) dari Prof Rhenald Kasali yang berjudul “Tomorrow is Today”

Prof Rhenald mengartikan disruption sebagai perubahan secara radikal dan revolusioner yang bisa memicu ketegangan karena ada unsur 3 S “sudden, speed , dan surprise”. Buku ini menjelaskan konsep Trimurti Hindu dimana ada dewa pencipta, pemelihara dan perusak dan dikaitkan dengan konsep Three-Box Solution Vijay Govindarajan. Pada box 1 (the Present), mirip seperti karakter dewa pemelihara, kita tetap harus mengelola kondisi saat ini agar perusahaan tetap beroperasi.  Box 2 (the Past) mirip seperti karakter dewa perusak, dimana kebiasaan masa lalu harus ditinggalkan. Pada box 3 (the Future), seperti karakter dewa pencipta, kita dituntut untuk menciptakan masa depan dengan gagasan-gagasan baru.

Indikasi disruption terlihat dari para market leader yang terancam dengan kehadiran pemain baru yang menawarkan alternatif yang jauh lebih murah, contoh, bisnis taksi konvensional babak belur dengan adanya taksi/ojek online, hotel mulai ditinggalkan dengan adanya Airbnb, dan contoh lainnya seperti fintech vs perbankan, amazon.com vs toko buku, waze vs gps, dan youtube vs TV. Riset accenture menyatakan bahwa sejak tahun 2000, lebih dari 50% perusahaan yang masuk daftar Fortune 500 menghilang. Salah satu penyebabnya karena mereka terlambat mengadopsi teknologi digital ke dalam perusahaannya.

Buku ini secara khusus membahas bagaimana PT. Pembangunan Perumahan (PP) mendisrupsi dirinya. Dimulai dengan gambaran bahwa dunia konstruksi sudah terdisrupsi dengan dibangunnya beberapa bangunan dalam waktu super singkat, contohnya di China, Mini Sky City setinggi 57 lantai dibangun hanya dalam waktu 19 hari, dan Hotel Ark setinggi 15 lantai dibangun dalam waktu 6 hari. Hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan gedung Freedom Tower di New York (gantinya Menara WTC) yang dibangun dalam waktu 7 tahun. Hal ini dimungkinkan karena adanya metode knock down seperti mainan lego, yaitu semua komponen dirakit terlebih dahulu di pabrik (pre-fabrikasi), dan tinggal dirangkai di lokasi proyek. PP telah menggunakan metode ini pada pembangunan New Priok Container Terminal seluas 28 hektar hanya dalam waktu 2,5 tahun, 2 kali lebih cepat dibanding pembangunan dengan cara konvensional.

Dunia konstruksi diprediksi akan terdisrupsi dengan kehadiran teknologi 3D printing. Contohnya pada Desember 2016, perusahaan Apis Cor, yang dengan perangkatnya yang mobile, dengan listrik hanya 8 kilowatt, dan dioperasikan hanya dengan 2 orang, mampu mencetak rumah berukuran 38 meter persegi hanya dalam waktu 24 jam dengan biaya sekitar Rp 136 juta rupiah.  Teknologi 3D Printing juga telah diterapkan di Dubai, yaitu pada Museum of the Future seluas 250  meter persegi yang dibangun hanya dalam waktu 17 hari dengan biaya 140 ribu USD. Di China, perusahaan Winsun menggunakan 3D printing untuk membangun apartemen setinggi 5 lantai seluas 1,100 meter persegi dengan biaya 161 ribu USD. Teknologi ini mampu mengurangi limbah sampai 60%, mengurangi waktu hingga 70%, dan memangkas biaya tenaga kerja sampai 80%.

Buku ini menjelaskan 6 perangkap yang perlu dihindari, yaitu (1) Success Trap, contohnya Chrysler yang terlena dengan kesuksesan penjualan minivannya. (2) The Competency Trap, contohnya Yahoo yang merasa sudah ahli di bidang iklan banner dan tidak mengembangkan search engine sehingga dikalahkan oleh Google. (3) The Sunk Cost Trap, contohnya pesawat jet supersonik concorde, yang bisnisnya tetap dijalankan padahal sangat menguras modal, hanya karena alasan pride. (4) The Blame Trap, contohnya, saat taksi online muncul, taksi konvensional bukannya berinovasi, malahan berdemo dan menyalahkan kehadiran taksi online. (5) The Cannibalization Trap, contohnya Kodak yang tidak mau mengembangkan kamera digital karena khawatir bakal mengganggu bisnis kamera konvensionalnya. Terakhir, (6) The Confirmation Trap, yaitu kondisi dmana perusahaan berusaha membenarkan pilihan bisnisnya dengan sedikit-sedikit bertanya.

Hukum Moore (1965) menjelaskan bahwa kemampuan mikroprosessor akan meningkat setiap 2 tahun karena semakin banyak jumlah transistor yang bisa ditambahkan di dalam inti dari chip komputer. Selama ini penambahan transistor dilakukan dengan menciutkan ukuran transistor. Hukum Moore ada batasnya karena nanti akan ada satu titik dimana transistor tidak bisa dikecilkan lagi. Namun hukum ini tidak beralaku karena Intel telah menerapkan teknologi nano dalam pembuatan mikroprosessor. Artinya, kamajuan teknologi dapat mendisrupsi pada industri apapun dengan jauh lebih cepat. Bahkan kita sudah maemasuki gelombang ketiga dari information wave, yaitu internet of things.

Buku ini menjelaskan bahwa sustaining innovation saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah disruptif innovation. Apa bedanya? Contohnya, Nokia telah mengembangkan handphone sejak tahun 1987, dan selalu berinovasi untuk memperbaiki model fisik ponselnya sehingga pada tahun 1997 Nokia berhasil mengalahkan Motorolla. Namun pada tahun 2007 dunia telepon genggam berubah dengan adanya iPhone dan Google Android. Nokia hanya berupaya merubah ukuran ponselnya saja menjadi semakin kecil (sustaining innovation), namun tidak melakukan disruptive innovation dengan mengembangkan produk yang benar-benar berbeda, tekologi berbeda, dengan harga lebih murah.

Buku ini kemudian menjelaskan berbagai disruptive innovation yang dilakukan oleh PP disertai dengan indikator-indikator finansial yang mendukung, seperti debt to equity ratio dan net gearing ratio, serta pergerakan saham PP yang semula di bawah Rp 1000 per lembar di tahun 2013 menjadi di atas Rp 3000 per lembar di tahun 2017. Buku ini juga menjelaskan bagaimana PP menjembatani generation gap antar pekerja termasuk bagaimana menangani generasi millenials.

Sebagai kesimpulan, buku ini mengajak kita meninggalkan mindset lama bahwa masa depan itu adalah misteri. Kita harus siap mengarungi samudera biru dalam kapal besar sendirian dan biarkan para pesaing berlayar di samudera merah dengan berdarah-darah. Masa depan bukanlah misteri, ia bisa kita persiapkan. “Persiapan terbaik untuk menyambut hari esok adalah melakukan yang terbaik hari ini” –Jackson Brown

Advertisements

the major challenges that companies are facing in a world with no boundaries

In my personal opinion, the major challenges that companies are facing right now are changes that occur very often and quickly, either from internal or external factors. These factors include changes in different environments, from economic, market, business, social political, or information technology. Changes have become a part of everyone’s life. For instance, no one uses a briefcase-sized cell phone anymore, it is something that we all accept and conform with. A Change is a must, because change is an initial of improvement. To improve is to change the position to become more forward from before. A change should be managed by a good management, which will cover all aspects of what is important or crucial to a country. Companies can differentiate themselves from others by always trying to adapt the  situation which always going rapidly, because I think everything will always be changing, whatever the circumstances are, and the only thing that would not change is the change itself,  it means that it will always be dynamic.

There are several steps to make a successful change. First, companies should check their position in current condition, where they are right now and where they want to go. Then, after they define on what aspect they want to change and what the objectives from that change are, they should plan and design it by breakdown on what the competencies needed to achieve their goal. The next step is they should prepare all the supporting infrastructures, such as key performance indicator, reward system, information technology, and forming the team. The team leader should be able to involve the entire organization’s member, because as a process, the change has the “law of native” rule so that every member should understand the organization’s vision and have the sense of belonging.  After the great plan is set, the next step is implementation, which needs good communication among the members so that the change objectives can be achieved.  The last step is control. While controlling the change, companies should focus on the modern quality control, known as PDCA (Plan-Do-Check-Action). “Plan” is determining the objectives and process needed to achieve the expected   specifications. “Do” is implementing all the process. “Check” is monitoring and evaluating the process and the results, then compare it with the company’s objectives and also report the outcome. “Act” is applying actions to the outcome for the necessary improvement, which means reviewing all the four steps and modifying the process in order to improve it before the next implementation. After all steps are implemented, they should continually improve all functions to achieve the sustainable growth. If all companies do all the four steps mentioned before, I believe that they not only will be differentiating from others, but they also will be the leader in their industry.