Tafsir

Tafsir QS Al Buruuj 85

Sabtu 13 Desember 2014

Catatan Pengajian Subuh Ustadz Abi Makki
Mesjid husnul khatimah Cinere

Tafsir surah 85 Al Buruuj

Ini adalah surah Makkiyah yang terdiri dari 22 ayat.

Arti dari Al Buruuj adalah Cahaya bintang atau Gugusan bintang. Buruuj adalah sesuatu yg nampak. Misal lagi gelap. Tiba2 keluar sesuatu yang nampak sekali, itu disebut. Baroju.

Surah ini diawali dengan sumpahnya Allah. Semua jenis “waktu” pernah digunakan Allah untuk bersumpah. Contoh. Wal lail. Wad dhuha. Wal yaumil mau’ud. Maknanya adalah, waktu merupakan sesuatu yang luar biasa yang ngga bisa kita ulang.

“…Wa syahiid.” Artinya menyaksikan dengan mata. Ada beberapa pendapat ulama bahwa makna “syahid” di sini adalah Rasulullah Muhammad SAW, sedangkan makna “masyhuud” adalah umatnya Muhammad SAW. Maksudnya. Rasul akan menjadi saksi kelak kepada umatnya. Di akhirat kelak, Kalau ada orang yang ngga tau solat, ngga tau zakat, maka yg akan ditanya adalah Rasulullah. Apakah Rasulullah belum menyampaikan? Nanti Rasulullah akan menjawab. “Sudah saya sampaikan”. Buktinya. Sewaktu di arafah, ada ribuan orang, Rasul bertanya  “apa sudah saya sampaikan semuanya?” Qoo luu. Ba la syahid

Ada pendapat lain, yaitu makna “syahid” itu adalah umat Muhammad SAW sedangkan yang dimaksud “masyhud” adalah nabi dan umat terdahulu. Contohnya sebagai berikut. Nanti, ketika Nabi Nuh dibangkitkan. Allah akan bertanya kepada umat Nabi Nuh “Wahai kaum Nuh, apakah kalian bersaksi bahwa Nuh adalah nabi kalian”. maka umat Nabi Nuh akan berkata ..”tidak, kami tidak pernah mengenal Nuh”. Padahal Nabi Nuh sudah berdakwah selama 950 tahun, tapi masih saja tidak diakui oleh umatnya. Kemudian Allah bertanya lagi “Wahai Nabi Nuh, lalu siapa saksimu?”. Lalu Nabi Nuh berkata “saksiku adalah umat Nabi Muhammad SAW”.

Kemudian umat nabi Muhammad SAW dibangkitkan. Allah pun bertanya kepada mereka “Wahai umat Muhammad, apakah kalian bersaksi bahwa Nuh itu adalah nabi?”. Lalu umat Muhammad akan berkata “Benar ya Allah, Nuh itu merupakan nabi-Mu”. Allah bertanya lagi “Tapi kan kalian belum pernah ketemu Nuh, darimana kalian tau kalau Nuh merupakan Nabi?”. kemudian umat Muhammad menjawab “Kami membacanya di dalam Quran”. Itulah mengapa umat Muhammad sering disebut “umatan wasyata”

Selanjutnya, di ayat 4. Allah mengatakan “qutila ashhabul uhduud”. Maknanya Allah melaknat orang-orang yang membuat parit. Parit apa? begini kisahnya menurut riwayat Ibnu Maja. Soheh Muslim.

Di Yaman, ada seorang raja yang bernama Raja Tubba. Raja Tubba ini mengaku sebagai Tuhan. Raja ini suka sekali sama sihir dan dunia perdukunan. Raja tubba punya kader yang bernama ghulam. Ghulam ini disekolahkan untuk menjadi dukun. Sekolahnya di gunung, karena di gunung tersebut ada dukun yang sangat terkenal.

Sang dukun senang sekali mendapat murid titipan raja. Setiap harinya, si ghulam pulang pergi dari kerajaan ke gunung tersebut.

Di kaki gunung tersebut, tinggallah seseorang soleh bernama Abdullah. Di perjalanan ke rumah sang dukun, ghulam selalu berjumpa dengan Abdullah. Karena setiap hari bertemu, ghulam sering ngobrol dengan Abdullah. Saat ngobrol, Abdullah cerita tentang ke-esa-an Allah. Akhirnya si ghulam lebih tertarik untuk belajar ketauhidan ke Abdullah daripada ke rumah sang dukun.

Singkat cerita, ghulam malahan menimba ilmu dari Abdullah, bukan dari sang dukun. Akhirnya saat ghulam pulang ke kerajaannya, Allah memberi ghulam kemampuan untuk ngobatin orang sakit. Di yaman, nama ghulam semakin terkenal. Raja Tubba dan orang-orang mengira bahwa kemampuan ghulam ini adalah hasil belajarnya sama dukun, padahal tidak sama sekali.

Suatu hari, ada seorang menteri (wazir) yang buta yang datang ke ghulam untuk menyembuhkan diri. Akhirnya dengan izin Allah, ghulam menyembuhkan si menteri tersebut. Sang menteri sangat senang  sambil menawarkan harta yang sangat banyak.

Ghulam menolak tawaran tersebut. Katanya “Tidak usah kasih apa-apa, anda beribadah saja kepada Allah”. Sang menteri pun bertanya “Siapa Allah?”. Ghulam menjawab “Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu”.

Kabar ini sampai ke raja Tubba. Raja sangat marah karena menurutnya harusnya yang jadi Tuhan itu dia. Ghulam pun dipanggil untuk dibunuh.

Ghulam disuruh naik perahu, dibawa ke tengah laut, dan akan dilemparkan di sana. Tapi ternyata Allah menyelamatkan ghulam. Ketika di tengah laut, ombak datang, perahu terbalik, semua orang yang ada di perahu tenggelam, tapi ghulam selamat dan terdampar. Saat itu ghulam kembali lagi ke raja untuk ngasih tau kalau dirinya selamat.

Sang raja pun semakin marah. “Besok kamu akan saya bunuh lagi, jangan kemana-mana ya!”

Besoknya, raja memerintahkan para prajuritnya untuk membawa ghulam ke atas sebuah bukit. Dari atas bukit, ghulam akan dilemparkan ke bawah. Lagi-lagi Allah menyelamatkan ghulam. Saat di atas bukit, terjadi gempa, dan seluruh prajurit tewas sedangkan ghulam masih hidup.

Ghulam pun datang kembali ke raja untuk ngasih tau kalau dirinya selamat. Masyarakat semakin heran, siapa yang melindungi ghulam?

Raja  frustasi karena tidak bisa membunuh ghulam. Kemudian ghulam pun bicara “Kalau anda mau bunuh saya, silahkan. Caranya, kumpulkan semua masyarakat di lapangan. Kemudian anda panah saya di hadapan orang banyak. Tapi sebelum memanah, anda harus berkata “Bismi rabbi haza ghulam”. Maknanya “dengan nama Tuhannya si Ghulam”.

Raja pun menuruti permintaan ghulam karena frustasi. Masyarakat dikumpulkan. Ghulam pun berdiri di tengah-tengah ribuan orang. Saat dipanah pertama kali, ngga kena. Kata ghulam “Wahai raja, anda lupa menyebutkan bismi rabbi haza ghulam”.

Lalu sang raja menyebutkan “Bismi Rabbi Haza Ghulam”. Kemudian raja memanah. Ghulam pun wafat.

Raja tidak menyadari kenapa dia harus menyebut kalimat tersebut. Padahal secara tidak langsung, ini merupakan syiar kepada masyarakat bahwa Tuhannya si Ghulam ini gagah sehingga mampu melindungi ghulam.

Kemudian ribuan orang yang menyaksikan kejadian tersebut beriman kepada Tuhannya Ghulam. “Amantu bi rabbi hazal ghulam”. Ini ibaratnya syahadat. Tapi jaman dulu belum ada.

Raja Tubba pun semakin marah dan berkata “Siapa yang beriman kepada Tuhannya Ghulam akan saya bunuh!”. Lalu orang-orang tersebut berkata “Bunuh saja kami, tapi bunuh di sini bersama ghulam”

Kemudian raja membuat parit yang besar. Siapa saja yang tidak mengaku kalau Tubba itu Tuhan dimasukkan ke dalam parit. Di dalam parit orang-orang tersebut dibakar. Ribuan orang dibakar di dalam peristiwa ini. Padahal orang-orang tersebut tidak salah sama sekali. Mereka dibakar hanya karena mereka beriman. Inilah kisah yang dimaksud di dalam surah Al Buruuj ayat 4-7.

 

– to be continued –

 

Disclaimer:

Ini merupakan catatan seseorang yang baru belajar.. kalau ada yang salah mohon dikoreksi 🙂

Advertisements

Tafsir QS 86 At Tariq

Sabtu 31 januari 2015

Catatan Pengajian Subuh Ustadz Abi Makki
Mesjid husnul khatimah Cinere

Tafsir surah 86 Attariq

“Wassamaa i zati raj…” Ar raj…. ingat inna lillahi wa inna ilaihi rajiun… raj itu maknanya mengembalikan…  apa yg dikembalikan? Beberapa ulama berpendapat bahwa yang dikembalikan adalah air. Air menguap ke atas. Lalu turun ke bawah.

Makna lain dari raj adalah memantulkan. Para ilmuwan menemukan. Langit tingkat 1-4 mengembalikan seluruh apa yg dibutuhkan bumi. Contoh. Sinyal, dikembalikan ke bumi… Sedangkan langit tingkat 5-7 memantulkan seluruh yang datang dari luar bumi keluar bumi karena berbahaya, contoh meteor… Langit ini bersifat memantulkan.

“Wal ardi zati sadq”… demi bumi yg dpt membelah dirinya… As sadq… maksudnya.. ada ruang tanah yg terbuka agar tumbuh2an bisa tumbuh.

“Innahu lakaulun fasl…” Sesungguhnya Quran ini adalah perkataan yg benar, tidak ada salahnya, baik dari bahasa, susunan kata, makna, semuanya benar..

Hati-hati..ada metode menterjemahkan Quran yg salah, yaitu dengan nafsu, bukan dengan ilmu, namanya metode hermeneutika…

Makna dari “hazl” adalah cerita2 yg tidak ada manfaatnya,  contoh sinetron ganteng-ganteng serigala.. Quran ini bukan hazl. Di quran ini tidak ada yg main-main. Semuanya benar adanya. “Nahnu naqussu…” sebaik2 cerita ada di quran. contoh. cerita tentang Qarun, Firaun, Jinn. Semuanya merupakan kisah yang benar

Setiap jiwa ada yang mengawasi. Setiap ucapan kita dicatat oleh malaikat. Apa yang dibicarakan oleh manusia dapat dibagi tiga: yang baik, yang mubah dan yang buruk. Semuanya dicatat oleh Malaikat Raqib Atit.

Tidak ada Nabi yg tidak menghadapi tipuan orang kafir. Tidak ada nabi yg tanpa perjuangan. Nabi Muhammad pernah ditipu. Nabi Musa pernah ditipu. Sampai saat ini pun tipuan-tipuan masih banyak beredar, baik di tv, internet, maupun media lainnya. Tapi kita tidak perlu kuatir. Karena “Innahum wa aiku kaida..” .Mereka punya tipu daya, Allah juga punya tipu daya. Ingat saat Rasulullah mau dibunuh sebelum beliau hijrah, kan akhirnya beliau tidak jadi dibunuh. Saat perang khandaq, ada makar, akhirnya dibendung dengan parit melalui ide Salman al Farisi. Semua atas pertolongan Allah.

Di Surah Ali Imran (Surah ke-3) ayat 14 ada ayat “…Hubbus Syahawati minan nisaa”. Maknanya yang dijadikan paling indah pada pandangan manusia adalah wanita. Makanya yang paling mahal di muka bumi ini adalah wanita solehah.

“Famahhiri… kafiriina.. amhilhum ruwaida…”

Kita marah melihat perilaku orang yahudi. Allah berkata “Mahlan…” Artinyanya “tenang… santai… tunggu…. Aku masih berikan kesempatan sebentar saja… nanti mereka akan mendapatkan kesengsaraan selama2nya…”

Kesimpulan dari Surah Tariq

1. Setiap jiwa ada yang mengawasi

2. Quran ini adalah benar

 

Disclaimer:

Ini merupakan catatan seseorang yang baru belajar.. kalau ada yang salah mohon dikoreksi 🙂

Al Hajj | Abi Makki | 12 12 2009

Al Hajj 
Pengajian Subuh Abi Makki – Sabtu 12 Desember 2009

Al Hajj merupakan surah yang penuh keajaiban, luar biasa keanehannya, karena sebagian ayat turun di Kota Makkah, sebagian di Madinah. Sebagian turun di waktu siang, sebagian di waktu malam, sebagian waktu Rasul sedang di perjalanan, sebagian ketika di rumah. Surah ini tetap termasuk surah Madaniyah karena semua surah yang turun setelah Rasulullah hijrah merupakan surah Madaniyah. Surah Al Hajj merupakan satu-satunya surah yang dinamakan dari rukun islam, haji. 

Ada 3 pokok pembahasan di dalam surah ini:
1. Al Qiamah, hari kiamat/hari kebangkitan
2. Ibadah yang penuh kekhusuan/ibadah khudhu
3. Jihad fisabilillah
Apa hubungannya antara ketiga poin ini terhadap ibadah haji?

Poin 1

Ayat 1..hari ketika bumi digoncangkan. Ayat pertama aja udah ngebahas kiamat. Sesungguhnya yang namanya kiamat adalah suatu hal yang benar dan amat dahsyat. Haji dan kiamat sama-sama melelahkan, ga ada yang namanya leha-leha. Di haji ada miqat, batas bagi dimulainya ibadah haji. Apabila melintasi miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji perlu mengenakan kain ihram dan memasang niat. Miqat ini ngga boleh ditinggalkan. Di kehidupan juga ada miqat, yaitu ketika di alam janin, di dunia, dan di alam barzah. Semua tahapan harus dilewati. Di haji, sampe ke Makkah ga ada istirahat, langsung tawaf, sai, dll. Maknanya, di akhirat juga ga ada istirahat, Di Padang Mahsyar aja waktu yang dibutuhkan 50.000 tahun, Sirathal Mustaqim ada 7 pos, masing-masing pos 3.000 tahun. 

Ketika haji, bacaannya sama, labbaikallah humma labbaik, jamaah dari afrika, kutub utara, sunda, bacaannya sama. Ketika tawaf, maka manusia akan berkumpul di dalam kepadatan. Apa maknanya berpadat-padatan ketika tawaf? Di padang mahsyar nanti, semua manusia mulai dari Nabi Adam sampai dengan manusia terakhir akan dikumpulkan di tempat yang sama. Ketika itu seluruh manusia berdesak-desakan, panas, dan dibanjiri oleh keringat. Sangking padatnya, dada nempel dengan punggung orang di depannya. 

Tawaf itu muter mulai dari hajar aswad mengelilingi Ka’bah hingga bertemu dengan hajar aswad lagi. Terserah deh jalurnya gimana, maksudnya, mengelilingi Ka’bahnya bisa bener-bener seperti lingkaran, bisa agak ouval, bisa agak kotak, dst, yang penting mesti mulai dari hajar aswad dan mesti balik lagi ke hajar aswad, dan tawaf harus dilakukan didalam lingkungan masjidil haram. Maknanya, anda boleh saja berprofesi sebagai apapun, boleh jadi pengusaha, pedagang, dll, tapi tetaplah berada di dalam Islam. Kemanapun kita pergi, kita pasti akan kembali kepada Allah. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. 

Waktu haji, abis tawaf ifada, rambut acak-acakan, baju ihram kotor, wajah lelah, kucel, rambut ga disisir, ga pake parfum. Hal ini menggambarkan ketika kita bangkit di padang mahsyar nanti, keadaannya akan mirip seperti itu. Bangkit dari pasir, kotor, penuh debu. Padahal sebelum pake baju ihram disunnahkan mandi dan pake parfum. Sama seperti jenazah, sebelum dikafankan dimandikan dulu. Nanti kita akan dibangkitkan di alam mahsyar dari tulang ekor. Ayat 5 dan 7.

Ayat 2. Waktu kiamat manusia akan panik. Waktu haji, pas lempar jumrah, dulu sempet ada injek-injekan saking padatnya, tiap orang pasti akan memikirkan dirinya sendiri, yang penting dia selamat, Begitu pula ketika hari kiamat nanti. Di ayat 2 dijelaskan bahwa ibu yang sedang hamil akan menggugurkan kandungannya, seorang ibu akan meninggalkan anak yang disusuinya, dsb. Panik seakan-akan mabuk. Panik karena azab Allah sangat dahsyat. Orang kafir bingung, ini azab sudah dateng, mau lari kemana lagi?

Poin 2

Ibadatul Khudhu. Ayat 26, 32. Kenapa waktu haji ga boleh potong kuku, cabut bulu, petik ini itu, dll. Banyak peraturan yang ngga masuk akal. Sempurna dalam beribadah kepada Allah adalah ketika kita beribadah tanpa banyak tanya. Karena pertanyaan tadi jawabannya iman. Ini membuktikan bahwa apapun perintah Allah akan kita taati.

Masih inget kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail? Waktu Siti Hajar nganter Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebelum melakukan penyembelihan, setan dateng dan bisikin gini ke Siti Hajar “Kamu ini ibu yang tidak bertanggung jawab, anak udah diurus 14 tahun kok dibiarin gitu aja mau disembelih ama bapaknya, itu Ibrahim udah lama ga pulang ke rumah, lalu tiba-tiba datang dan ingin menyembelih Ismail, padahal itu anak kan kamu yang urus”. Lalu apa yang dilakukan Siti Hajar? Dia tidak menjawab godaan syetan tadi sedikitpun. Jawabannya melalui batu. Dengan tetap diam, Siti hajar mengambil batu kemudian melemparkannya ke arah bisikan tadi seraya berkata “Bismillahu Allahu Akbar” 

Begitupula ketika Nabi Ismail hendak berjalan dengan Nabi Ibrahim ke arah tempat penyembelihan. Setan pun datang dan menggoda Nabi Ismail dengan menyuruhnya pamit kembali ke ibunya. Jawaban Nabi Ismail pun sama seperti Ibunya, dia ambil batu lalu dilemparkannya ke arah setan. Setan juga menggoda Nabi Ibrahim sebelum ia menyembelih dengan berkata “Ibrahim, engkau kan Nabi, minta cobaan yang laen saja”. Dan Nabi Ibrahim pun ‘menjawab’ pertanyaan setan dengan batu. 
Maknanya adalah, seluruh anggota keluarga harus utuh dan bersatu dalam memusuhi setan. Jangan berkomunikasi sedikitpun dengan setan. Pake batu aja. 

Takbiran itu harusnya khidmat. Nabi Ibrahim waktu mengasah pedang sebelum menyembelih Nabi Ismail, bersikap ikhlas sambil bertakbir. Ngga kaya sekarang, pas malem lebaran takbiran sambil pawai dan musik, apa mungkin mereka mengingat Nabi Ibrahim dalam kondisi seperti itu?

Ibadah khudhu itu ibadah yang kita laksanakan tanpa bertanya-tanya. Coba, masuk akal ngga disuruh nyembelih anak? Ketika itu Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar ikhlas melaksanakan perintah Allah. Dan ketika Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, maka Allah pun menggantikan Ismail dengan seekor domba, dan ketika itu Nabi Ismail ada di sebelah Nabi Ibrahim, kemudian Nabi Ibrahim memeluk Nabi Ismail sambil berkata “nak, kita lulus nak akan cobaan Allah ini”. Begitulah makna ibadah khudlu. Apapun yang Allah perintahkan pasti baik untuk kita

 

*** to be continued…